Labels

Presiden Soekarno Di bali

 Presiden Soekarno, Penari legong keraton Ni Nyoman Pollok dan Pelukis asal Belgia, Adrien Jean Le Mayeur di Pantai Sanur Tahun 1950.



Kala usia Ni Pollok 15 tahun,  dan Le Mayeur memintanya bersedia menjadi model lukisan. Ni Nyoman Pollok pun menyanggupi. Penari ini ternyata memikat hati si pelukis. Setelah tiga tahun bekerjasama, tahun 1935 Ni Pollok berubah status: ia jadi istri Le Mayeur. Sejak perkawinan itulah, Le Mayeur mendidik Ni Pollok bahasa asing, belajar berhitung, dan pengetahuan lainnya. Bahkan Ni Pollok diajaknya ke Belgia, menemui keluarga Le Mayeur.
.
"Dia suamiku, majikanku, guruku," pengakuan Ni Pollok. Le Mayeur meninggal dunia di Belgia 31 Mei 1958 dalam usia 78 tahun. Ia tak meninggalkan keturunan bersama Pollok, tetapi mewariskan puluhan lukisan yang tetap disimpan Pollok. Lukisan itu tetap tergantung di rumahnya, pantai Sanur. Rumah dan lukisan itu dijadikan museum Ni Pollok. Inilah cerita kecintaan Pollok terhadap karya suaminya.

Dua lukisan Le Mayeur pernah dipinjam untuk menghias Istana Tampaksiring, guna menghormati tamu negara dari India. Presiden Soekarno rupanya berkenan dengan lukisan itu dan memerintahkan supaya dibeli saja. Pollok bingung karena ia tak pernah menjual karya suaminya. Ketika Soekarno, lewat perantara memaksa Pollok memberi harga, Pollok berkata. "Saya tak bisa memberi harga. Berilah saya pengganti berupa apa saja yang sekiranya bisa dipakai jaminan hidup."  
.
Presiden Soekarno, yang semula menyanggupi, ternyata "lupa" memenuhi permintaan Pollok. sampai pemerintahan Orde Lama jatuh dan Soekarno meninggal.


Situs resmi : https://www.sejarahbali.com #SejarahBali


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

*Orang bijak selalu meninggalkan jejak*

Postingan lain